21 Sep 2025 | Dilihat: 181 Kali

Aksi Simpatik FPN Serentak di Seluruh Indonesia Dukung Diplomasi Prabowo untuk Palestina

noeh21
Presiden Prabowo Subianto tiba di Bandara Internasional John F Kennedy, New York, Sabtu (20/9/2025). Presiden datang untuk menghadiri Sidang Majelis Umum ke-80 Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB).
      

MajalahDCN.com | Jakarta – Pengamat hubungan internasional Teuku Rezasyah memprediksi pidato Presiden Indonesia Prabowo Subianto dalam Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York, Amerika Serikat, berpotensi ditetapkan sebagai 'Memory of the World' oleh UNESCO. Pidato tersebut dinilai memiliki signifikansi sejarah setara dengan pidato Presiden Soekarno pada 30 September 1960.

"Pidato Presiden Prabowo Subianto pada Sidang Umum PBB tahun 2025 ini berpotensi menjadi kenangan dunia, sebagaimana pidato Presiden Soekarno yang telah diakui sebagai 'Memory of the World'," ujar Reza, Minggu (21/9/2025).

Reza menjelaskan bahwa pidato Prabowo akan mencakup filosofi kebangsaan, konstitusi, tradisi diplomatik Indonesia, serta respons terhadap tantangan global terkini. Ia juga menyoroti optimisme Prabowo dalam menyikapi krisis dunia yang belum terselesaikan.

Tiga Poin Kunci dalam Pidato:

1. Kerja Sama Lintas Peradaban dan Generasi
Dunia menghadapi tantangan bersama, termasuk kesenjangan ekonomi, kerusakan lingkungan, krisis keamanan, dan ancaman nuklir. Kerja sama global lintas generasi dianggap mendesak.

2. Reformasi PBB
Seiring dengan usia PBB yang ke-80, perlu penguatan peran Sekretaris Jenderal PBB dan pembebasan dari dominasi negara besar. Majelis Umum dan Dewan Keamanan PBB harus diberdayakan untuk merespons tantangan geopolitik, geostrategi, dan geoekonomi secara lebih efektif.

3. Restrukturisasi Dewan Keamanan PBB
Reza mengusulkan penambahan 10 anggota tetap baru dengan kriteria representasi peradaban (Hindu, Islam), benua (Asia, Afrika), jumlah penduduk, kontribusi perdamaian, dan pembangunan berkelanjutan. Hal ini untuk mengatasi ketimpangan akibat hak veto yang sering disalahgunakan.

Absennya Jokowi dan Pendekatan Intermestik Prabowo
Mengenai absennya Presiden ke-7 Joko Widodo dalam Sidang Umum PBB sebelumnya, Reza menduga hal itu disebabkan oleh fokus pada penanganan masalah dalam negeri. Sementara itu, Prabowo dinilai memiliki pendekatan "intermestik" yang menyeimbangkan prioritas domestik dan internasional.

"Karakter Presiden Prabowo adalah intermestik. Baginya, penyelesaian masalah dalam negeri adalah mendesak, tetapi harus disinkronkan dengan peran internasional selama keduanya saling mempengaruhi dan Indonesia mampu menanganinya," jelas Reza.

Pidato Prabowo di PBB akan menjadi momen penting bagi Indonesia untuk memperkuat diplomasi global dan meninggalkan warisan sejarah yang diakui dunia. (Nuli)

Sentuh gambar untuk melihat lebih jelas